Perawatan Baglog Jamur

Prospek usaha budidaya jamur : amati dengan seksama (AB1)
Mei 3, 2019

Perawatan Baglog Jamur

Perawatan Baglog Jamur yang Intensif. Mendapatkan hasil panen jamur yang melimpah sudah pasti menjadi harapan semua petani jamur. Apalagi panenan yang banyak tersebut ditunjang dengan kualitas  jamur yang sesuai dengan parameter pasar. Tentu  petani pun akan mendapatkan harga jual terbaik. Dan tentunya keuntungan yang melimpah.

Ada market yang menyukai  jamur  berukuran besar dengan sedikit rumpun. Juga sebaliknya, ada yang lebih menyukai jamur berumpun banyak dengan ukuran sedang atau kecil.  Ada yang ingin teksturnya padat dan kering. Juga tidak sedikit yang lebih menyukai tekstur yang moist dan empuk.

Bibit jamur terbaik

Kondisi  ini pada akhirnya menuntut pembudidaya untuk mengupayakan bibit dengan strain jamur terbaik. Yang pertumbuhannya begini dan begitu dengan beragam  syarat. Maka hadirlah beragam jenis bibit jamur dengan nama yang bermacam-macam pula.

Mengupayakan bibit yang super tentu hal yang bijak dan sebuah keharusan bagi setiap pembudidaya. Hanya terkadang kita “lupa”. Setelah mendapatkan bibit yang cocok untuk dibudidayakan. Kemudian  kita produksi baglog atau media tumbuhnya. Lantas diinkubasi hingga siap panen. Dan kemudian tiba pada momen yang paling menentukan yaitu perawatan baglog jamur selama masa produktif. Namun  yang terjadi pada sebagian orang justru lupa untuk memberikan perhatian atau perawatan yang intens.

Karena merasa sudah memiliki bibit super, akhirnya kita serahkan sebagian besar nasib pertumbuhan jamurnya  pada bibit. Dan juga komposisi baglog / media tumbuh yang kita yakini terbaik. Hingga akhirnya perawatan baglog jamur yang diberikan pun apa adanya.

Melupakan perawatan baglog

Karena kesibukan untuk produksi dan panen memenuhi permintaan pasar, kebersihan kumbung seringkali diabaikan. Sisa sisa serbuk kayu berserakan. Laba-laba bersarang dengan bebas. Kelembaban ruangan dan aerasi udara tidak diatur. Penyiraman seenaknya. Baglog yang sudah dipanen kurang diperhatikan dan terkadang masih ada sisa sisa bonggol dan jamur yang membusuk.  Hingga tibalah beragam hama dan penyakit.

Kalau sudah begini yaa Wassalam. Pengalaman saya, kondisi di atas bisa menyebabkan produktifitas berkurang hingga 50%, bahkan lebih. Bukan karena bibitnya, bukan karena komposisi medianya, tapi karena kurangnya perawatan.  Harapan untuk panen melimpah pun akhirnya urung terjadi.

Dibalik Rahmat selalu ada Amanat. Mengharap hasil yang tinggi tentu akan sebanding dengan waktu dan pengorbanan yang besar.

Sahabat rumaJamur, tulisan  ini hanya cara saya mengingatkan diri pribadi, namun barangkali ada sedikit manfaatnya untuk rekan-rekan tentu Alhamdulillah.

Whatsapp